Kamis, 10 Mei 2012

PILKADES


PILKADES

Di Balai Rt. 1 / Rw. XX terlihat perbincangan antara Fit dengan Gembus, seperti biasanya setiap hari Minggu pagi sehabis jalan-jalan pagi.Tetapi tiba-tiba muncul seorang teman yang lama tidak muncul, namanya Puja Sasmita tetapi biasa disebut Bang Jenggot karena ia mempunyai jenggot lebat, tetapi tak berkumis. Bang Jenggot ini lahir di Betawi, ibunya keturunan Jawa ayahnya keturunan Sunda. Bang Jenggot mengucapkan salam :“Assalamu-’alaikum warahmatullahi wabaraktuh”. Kemudian jawab mereka serentak :”Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”. Setelah Fit dan Gembus menjawab salam Bang Jenggot, Bung Gembus nyelentuk :” Ehh, tumben Abang Jenggot datang. Bagaimana Bang keadaannya, sehat-sehat saja kan ?”
“ Yaa, ya sehat-sehat sajalah, bagaimana Mas Fit dan Bung Gembus ?” Jawab Bang Jenggot. Seperti dikomando maka keduanya menyahut :” Alhamdulillah”.

Bang Jenggot meneruskan bicaranya :” Maaf, yaaa saya baru nongol hari ini, sibuk siihh.”. “ Ngapain lu, Bang?”, sahut Gembus. “ Apa Bung Gembus belum dengar kabarnya bahwa Bang Jenggot sedang mempersiapkan Pilkades?”, sela Mas Fit. Tak kalah gesitnya Gembus yang punya tabiat “jocker” itu ikut nimbrung berkoar :“ Ouu, gitu thaa, slamet, slamet, yaa ! Saya jadi ketinggalan jaman, nggak denger kalau Abang mau sungguh-sungguh njago Kades. Kades mana Bang ? Apa Kepala Desa “ Waru Doyong “ sini ? Saya sebetulnya dikit-dikit denger, namun setengahnya kagak percaya apa iya Abang mau nyalon, kelihatannya fanatik agama gitu tha, lha wong jenggotnya saja tebel amat, apa iya kepingin adu kemampuan jadi Kepala Desa? Apa yang milih nggak kewatir ama situ yang kelihatan fanatik gitu. Nanti jangan-jangan semua orang dipaksa ngingu jenggot.”. Fit dengan sigapnya cepat-cepat memotong pembicaraan Gembus :” Sudah, sudah, Bung, jangan dipanjang lebarkan kan nggak baik. Maaf ya Bung Gembus dan Bang Jenggot saya memotong pembicaraan, rasa-rasanya telinga saya jadi gatal mendengar kata-kata itu.” Bertiga terdiam sejenak situasi jadi agak kikuk, menunggu siapa yang akan meneruskan pembicaraan setelah ada sindiran Gembus tersebut. Bang Gembus tidak bermaksud menyakiti temannya karena sudah terbiasa gojegan, saling ejek, namun Fit menyadari bahwa Bang Jenggot sudah menyalonkan Kades tentunya perasaannya sudah agak lain tidak seperti dulu lagi. Dengan tegoran Mas Fit rupa-rupanya Gembus tersadar akan kekeliruannya. “ Maaf, ya Bang saya lupa diri “, pinta Gembus memelas. “ Ya, saya juga ya Bung seandainya terlihat wajahku tadi agak cemberut “, sahut Bang Jenggot. “ Alhamdulillah “, cetus Mas Fit sambil menghela nafas lega. Kedua-duanya nampak cerah kembali ketika Bung Gembus memulai terlebih dulu menyalami Bang Jenggot. “Nah syukurlah apabila diantara kita sudah tak ada ganjelan lagi, itu namanya zero-zero mind kata orang sono. Maksudnya masing-masing terima kosong-kosong, lebur dari dosa. Karena Allah Swt. Tak akan mengampuni dosa seseorang apabila berbuat dosa kepada orang lain, kecuali kalau orang  yang dizalimi mau memaafkannya. Ingatlah orang yang mengejek, mencaci maki, mengumpat itu diancam masuk ke neraka Weil, yaitu neraka yang paling celaka. Sedangkan orang yang mencari-cari kesalahan orang lain saja sudah termasuk dosa. Ingat pula firman-Nya :“Janganlah engkau mengintai-intai kesalahan orang lain dan jangan kamu mencela”, dosanya sama dengan makan daging bangkai temannya yang sudah meninggal dunia, maka akan jijik. Na’udzu billahi min dzalik.

                “Oya Mas, sebetulnya ane mau tanya ama Mas Fit, ini lho ada teman yang memberi nasehat agar mempelajari tentang tabiat atau karakter manusia menurut E. Spanger. Katanya calon Lurah harus paham karakter seseorang agar dalam menghadapi bermacam-macam sifat manusia bisa memahami dan mengatasi dengan bijaksana, ini lho referensinya.”Kata Bang Jenggot sambil menyerahkan selembar kertas foto copy-an, lalu  Fit membacanya :
 Tipe-tipe manusia menurut  E. Spanger.

Nilai Peradaban


Bentuk Hidup

Ciri-ciri

1.Ekonomi
Manusia Ekonomi
Ia Bekerja
2.Politik
Manusia Berkuasa
Ia Berkuasa
3.Masyarakat
Manusia Sosial
Ia Mengabdi
4.Ilmu Pengtahuan
Manusia Teoritis
Ia Berpikir
5.Kesenian
Manusia Estetis
Ia Menikmati
6.Agama
Manusia Religius
Ia Menyembah

Bung Gembus-pun ikut mengamatinya sambil berbisik :” Ini patesnya untuk Abang Jenggot yang nomor satu dan nomor enam, ekonomi dan agama. Ini menurut kata hati saya lha Mas Fit. Bang Jenggot sih dalam wiraswastanya cukup berhasil, uang banyak, dan lagi agamanya lebih mendingan bila dibandingkan dengan saya “. Kata-kata Bung Gembus kelihatannya tak begitu dipedulikan oleh Bang jenggot, Bang Jenggot meminta kepada Mas Fit agar mau menje-laskan apa maksudnya tipe-tipe orang tersebut diatas. Mas Fit pun mau menjelaskannya :
“ Begini Bang menurut pendapat saya kurang lebihnya :
                1.Ekonomi, tipe seperti ini adalah manusia yang dalam bentuk atau gaya hidupnya selalu menomor satukan kepentingan ekonomi, harta benda; kekayaan, kemewahan ia adalah idolanya. Ciri-cirinya orang seperti ini adalah ia giat bekerja, ibarat pepatah “time is money”.
2.Politik, manusia bertipe politik adalah manusia yang haus akan jabatan, kekua-saan, ia menganggap bahwa kekuasaannya adalah atas perjuangannya sendiri tanpa bantuan atau dukungan orang lain, karakter yang buruk apabila ia mempunyai sifat-sifat sebagai berikut “TENGIL”: (Takabur, Egois, Norak, Galak, Iri-dengki, Licik).
Sifat buruk Penguasa yang bersifat TENGIL :
-Takabur, ia selalu membangga-banggakan diri, bahwa orang lain tak ada artinya apa-apa, dia-lah yang paling super dan paling berjasa dan lain sebagainya.
-Egois, ia hanya mementingkan diri sendiri, meskipun orang lain mendapat kesengsaraan, ia tak akan peduli, asalkan kepentingannya sendiri sudah terpenuhi.
-Norak, penampilan yang jorok, tak tahu adat kesopanan, hanya dialah yang paling benar, yang lainnya diangap dungu.
-Galak, pemarah, suka mencari-cari kesalahan orang lain, meskipun sebetulnya dialah yang salah tapi selalu mencari kambing hitam bahwa orang lainlah yang salah.
-Iri-dengki, kalau ada orang lain yang mendapatkan kebahagiaan atau keberuntungan selalu saja ia tak senang, terus memfitnah, menjelek-jelekkan orang lain tersebut.
-Licik, ia tidak sportip dalam segala hal, orang demikian biasanya tidak mau mengakui kekalahan atau kekurangan yang ada pada dirinya; atau tidak mau mengakui keunggulan orang lain maka dicarilah kesempatan untuk menjegalnya atau menjatuhkannya dengan jalan menfitnah dengan segala kelicikannya. Nah, kalau ingin jadi pemimpin yang baik hindarkanlah betul-betul sifat TENGIL.
3.Masyarakat, orang yang bertipe manusia masyarakat adalah manusia sosial: ia suka tolong-menolong, pengabdiannya kepada lingkungan sekitar amat tinggi.
4. Ilmu Pengetahuan, manusia bertipe seperti ini lebih mengutamakan teori dari pada kerja di lapangan. Ia sangat gemar belajar, suka menimba ilmu sehingga merasa dirinya lebih pandai daripada yang lainnya. Ia sebagai pemikir, konseptor baginya memang baik, akan tetapi kalau tidak disertai study lapangan maka hasilnya akan kurang menguntungkan atau kurang memuaskan.
5.Kesenian, ia senang menikmati keindahan, manusia estetis ini mempunyai sudut pandang dari kaca mata keindahan. Biasanya senang pada hal-hal yang menyentuh perasaan, emosional, sensitif dan kesukaannya hal-hal yang bersifat seni budaya, musik, keindahan alam, panorama, lebih menonjol perasaannya dari pada akal pikirannya.
6.Manusia Agama, menurut pandangan orang Barat, ialah manusia yang keseha-riannya beribadah atau bersembahyang terus menerus, tidak memikirkan keduniaan sama sekali. Pandangan ini seolah-olah terdapat dikotomi, kalau sudah memilih agama ya berarti akan me-ninggalkan duniawiyah. Ini pandangan yang keliru, dan harus diluruskan karena Allah sendiri memerintahkan : ”Carilah apa-apa yang datang dari Allah untuk kampung akhirat (surga), akan tetapi jangan melupakan kehidupan di dunia”. Nabi juga mengingatkan kepada ummatnya :”Carilah keduniaan seolah-olah kamu akan hidup selamanya, akan tetapi beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan mati besok.”  Dunia dan akhirat bagaikan dua sisi keping mata uang yang tak dapat dipisahkan, seharusnya dunia adalah ladang untuk mencari kebahagiaan di dunia dan mencari bekal untuk akhirat nanti, sesuai dengan firman-Nya :” Berbekalah kamu, sebaik-baik bekal adalah taqwa”.
Jadi semua tipe-tipe manusia baik, asalkan kesemuanya dilandasi dengan agama. Agamalah yang menuntun manusia kearah yang benar, seperti kemarin yang sudah saya jelaskan kepada Bung Gembus, yaitu dengan meningkatkan Kecerdasan Spiritual (SQ=Spritual Quotient), maka otomatis akan meningkat pula Kecerdasan Emosional (EQ=Emotional Quotient), karena spiritualisme mampu membangun Kecerdasan Emosional, yang bisa digunakan sebagai dasar-dasar pokok leader ship dan manajemen yaitu :~Integritas atau kejujuran; ~Energi atau semangat; ~Inspirasi atau ide dan inspiratif; ~Wisdom atau bijaksana; ~Keberanian dalam mengambil keputusan. Orang sukses hanya memerlukan  Intelektual (IQ) 20 % nya saja, yang besar justru Kecerdasan Emosionalnya (EQ) sebesar 80 %. Pemalas dan pemabok EQ-nya sangat rendah.
Insya Allah apabila amalan agamanya baik, menjauhi perbuatan maksiat, maka hati nuraninya akan bersih, dan akan mendapat hidayah atau petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk menjadi pemimpin yang bijaksana, adil, berwibawa dan disegani masyarakat. Ia akan dapat menggunakan “kata hati”nya yang baik itu guna memimpin. Hindarilah ‘TENGIL’, Amiin”, seru ketiganya hampir berbarengan. Wassalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.
Obrolan :
Fit dan Gembus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar