Kamis, 10 Mei 2012

KATA HATI


KATA HATI

                        Menjadi suatu kebiasaan apabila pada hari Minggu pagi sehabis jalan-jalan santai, kedua insan itu biasanya mampir di balai Rt.1 / Rw. XX. untuk ngobrol ngalor - ngidul nggak ada ujung pangkalnya. Yang satu namanya Fitrianto panggilannya “Fit”, panggilan yang umum karena sudah menjadi jamak lumrah kalau memanggil orang biasanya pada suku kata yang pertama yaitu “Fit” atau pada suku kata yang  yang terakhir yaitu “Anto”. Yang satunya lagi bernama Raharjo, panggilannya “Gembus” karena orang tua Raharja dulunya berwiraswasta jualan gembus di wilayah Banyumas. Bung Gembus sendiri juga nuruni darah orang tuanya, sebagai  PKL. alias pedagang kaki lima.
Mas Fit sudah datang lebih dulu, sambil leyeh-leyeh di kursi balai Rt. menunggu parnernya ngobrol yaitu Bung Gembus. Begitu Bung Gembus datang sambil mengucap salam terus menggerendeng ngedumel :” Waaah payah, payah, payah ! “.  “Apanya yang payah, Bung?” kata Fit. “Itu lho di sana-sini terjadi musibah ada yang gempa bumi tektonik di laut sehingga mengakibatkan gelombang besar Tsunami yang memakan korban ratusan ribu jiwa melayang, ada gempa vulkanik, tanah longsor, kebakaran, apakah ini memang hukuman dari Tuhan apa peringatan atau apa ujian ya Mas Fit ?” balik tanya Bung Gembus. “ Entahlah, tidak baik menduga-duga Bung.” Jawab Fit singkat. Rupa-rupanya Bung Gembus masih penasaran dengan jawaban shahibnya yang dianggap kurang memuaskan itu, Gembuspun mengejarnya :” Masa Mas lha wong terjadi di mana-mana, beruntun pisan. Apa  “fatwa” sampeyan Mas terhadap penginyongan sebagai PKL ? Ku kira ini adalah azab dari Tuhan yang Maha Kuasa, karena kebobrokan moral terjadi di mana-mana. Coba bayangkan Mas keadilan tidak bisa ditegakkan, korupsi terjadi dari tingkat elit kelas kakap sampai ketingkat elit ekonomi sulit, pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan sadis!. Belum lagi tayangan porno grafi dan porno aksi di layar kaca atau di majalah hiburan yang tidak ada misi pedagogisnya bahkan merusak kebudayaan yang adi luhung. Belum lagi isu-isu suap pilkades, pilkada, di eksekutif dan legislatif dan lain sebagainya. Bagaimana hukumnya menurut pandangan agama yang kita anut Mas?.”
Pertanyaan Bung Gembus yang suka “blaka suta” bicaranya, maklumlah karena asalnya dari Banyumas nyerocos bagaikan banjir bandang yang tak bisa dibendung, dan Mas Fit hanya mendengarkan dengan saksama, maklum Mas Fit orangnya lembah manah, ia tak ingin menyakiti hatinya, seandainya ucapannya tidak ditanggapinya ia khawatir akan mengecewakan sobatnya. Dengan hati-hati Fit mejawab pertanyaan Bung Gembus :” Begini Bung, sebaiknya kita jangan menyalahkan orang lain, akan tetapi mulailah dari diri kita sendirilah yang perlu diperbaiki. Mawas dirilah atau introspeksi dululah, tanyakanlah pada diri sendiri. “, kata Fit. “Apa bisa Mas tanya kok pada diri sendiri, lha wong kalau  ditanya oleh orang lain saja belum tentu bisa menjawab!”, kilah Gembus merendah sambil ngeledek temannya  yaitu Fit, maksudnya memancing sobatnya yang sok kelihatan sabar dan tenang itu, biar ada gregetnya. “Oya Mas Fit, ente kan tahu tentang istilah “kata hati” coba dong jelasin dikit. Pinta Gembus sambil menggeser duduknya lebih mendekat sedikit pada Fit., ada udang di balik batu bagi Gembus yaitu ia  ingin menunjukkan keseriusannya, tentu saja ingin mendengar wejangan lebih banyak dari karib yang ia segani Fit.
“Begini Bung”, kata Fit sambil menarik nafasnya, juga sambil memikirkan dan menyusun kata-kata agar penjelasannya bisa runtut, mudah diterima oleh temannya itu. “ Kata hati”  atau hati nurani , atau qalbun, alias God Spot itu.” adalah sebuah nama yang mengandung makna bahwa hati nurani manusia atau kata hatinya adalah baik atau selalu baik. Menurut fithrahnya “hati nurani” manusia adalah suci tak ternoda. Pada zaman Rasulullah Saw. ada seorang sahabat yang bertanya tentang  dosa itu apa? Maka Rasulullah Saw. menjawab supaya tanyakanlah kepada hati nuranimu itu, karena hati nurani itu baik, bersih, jujur. ” Kalau begitu, hati nurani koruptor, pencuri, perampok dsb. itu baik ya Mas?”. Sela Bung Gembus tak sabar mendengarkan obrolan Mas Fit. “Ya, yaaa betul Bung”, timpal Fit. “Qalbun, kata hati, hati nurani atau God Spot “ yang bersih itu tetap bersih, namun karena berkali-kali, berulang-ulang melakukan tindakan maksiat akhirnya hati nurani tertutup dengan noda-noda atau kekotoran keburukan, hatinya tertutup dosa, sehingga tidak bisa menerima atau merasakan nur Ilahi, atau tak bisa menerima hidayah-Nya. Hatinya gersang dari Cahaya Allah, ibarat hati sebagai mata maka ia tak bisa melihat jalan, ia tak dapat membedakan mana jalan yang baik untuk ditempuh dan mana jalan yang buruk yang harus dihindarinya, itulah yang namanya tersesat, menyesatkan diri atau zulmun li nafsihi. Makanya dalam shalat diulang-ulang membaca “iyya kana’budu wa iyyakanashta’iin”, yang artinya “ hanya ke pada –Mu-lah kami menyembah dan hanya ke pada-Mu-lah kami meminta pertolongan”. Saking asyiknya Bung Gembus tidak mau nyelani lagi omongan Fit, tetapi membiarkan shahibnya untuk meneruskan penjelasannya. Mas Fit meneruskan :”Arti qalbun sebetulnya bukan hati yang sebenarnya, ia hanya sebagai bahasa kiasan. Berbagai macam penafsiran tentang apa arti qalbun, ada yang mengartikan hati, ada yang mengistilahkan dengan kehatian, ada yang mengartikan jantung karena berasal dari kata qalaba yang artinya bolak-balik seperti jantung, ada pula di dalam Tafsir Al Maraghi qalbun diartikan dengan akal.  Akal pikiran letaknya diotak kecil, letaknya dibawah otak besar, namun otak kecil itu bisa menyimpan memori sangat spektakuler, bisa merekam dan merespon mulai dari janin ketika masih dalam kandungan ibunya sampai ia dilahirkan, sampai dengan meninggal dunia, memori itulah yang menjadi bacaan atau kitab ditujukkan kembali kepada manusia pada “Yaumul Ba’ats” atau Hari Kebangkitan sebagai kitab catatan segala amalan perbuatannya, tak kurang sedikitpun. Buku catatannya ada dua buah yaitu ada yang di  Lauh Mahfudh dan ada yang dikalungkan di kuduk manusia atau di “cengelnya” yaitu otak kecil.  Kesibukan yang lain otak kecil ini sangat luar biasa yaitu mengirim berita lewat syaraf-syaraf menggunakan sinar beta keseluruh tubuh manusia beribu kali lipat kesibukan setelit buatan manusia. Subhanallah wa bi hamdihi. Pengertian qalbun yang ini saya cocok sela Mas Fit. Kalau akal bersumber pada EQ., kepanjangan dari Emotional Quotient atau disebut juga Kecerdasan Emosional. Pikiran bersumber pada IQ kepanjangan dari Intelectual Quotient atau Kecerdasan Intelektual. Ada lagi yang kurang diperhatikan orang yang sebetulnya sangat penting sekali adalah SQ. kepanjangan dari Spiritual Quotient atau Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan Spiritual. inilah sebetulnya yang paling dominan untuk meningkatkan Kecerdasan  Emosional. Kalau zaman dulu sebelum abad ke dua puluhan, bagi orang Barat IQ sangat didewa-dewakan, tapi konon sekarang orang Amerika malah sedang mendalami SQ guna meningkatkan Kecerdasan Emosianal, sampai-sampai mereka memanggil ruhaniawan dari luar Amerika untuk meningkatkan Kecerdasan Spiritual. yang sekaligus bisa meningkatkan Kecerdasan Emosional-nya. Menurut penelitian masa kini bahwa keberhasilan seseorang bukan terletak pada kejeniusannya atau IQ. nya saja, akan tetapi keberhasilan seseorang  terletak pada Kecerdasan Emosionalnya. Orang sukses yaitu karena ia bisa meningkatkan dan memanfaatkan EQ nya 80 % dan sisanya IQ hanya 20 %.

Pada tanggal 11 April sampai dengan 12 April 2002 para Top Eksekutif International dari berbagai jenis perusahaan datang berbondong-bondong menghadiri sebuah forum diskusi leadership yang diadakan oleh “Havard Business School” . Rangkuman hasil diskusi diberi judul “Does Spirituality Drive Success? Yang artinya “Apakah spiritualitas bisa membawa seseorang pada keberhasilan?” Ternyata mereka sepakat menyatakan bahwa paham spiritualisme mampu menghasilkan lima hal, yang bisa digunakan sebagai dasar-dasar pokok leader ship dan manajemen yaitu :
1.      Integritas atau kejujuran, kebersamaan.
2.      Energi atau semangat.
3.      Inspirasi atau ide dan inspiratif.
4.      Wisdom atau bijaksana.
5.      Keberanian dalam mengambil keputusan.

Cobalah Bung Gembus renungkan saja, kelimanya itu adalah sebagian dari karakter sifat  pada diri Nabiyyullah Saw. sebagai manusia pilihan Allah Swt. yang menjadi panutan kita, agama kita lebih dari kelima poin tersebut yang diajarkannya, itu baru sebagian kecil dari akhlakul karimah atau akhlak yang mulia, juga baru sebagian kecil dari akhlak mahmudah atau akhlak terpuji. Bayangkan pula seandainya semua pemimpin di negara yang kita cintai ini termasuk rakyatnya menggunakan Kecerdasan Emosional yang dilandasi dengan Kecerdasan Spiritual dari sumber Al Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw. maka negara kita yang kaya raya ini akan menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Dan jangan khawatir terhadap Kecerdasan Emosianal yang dilandasai akhlak Kecerdasan Spiritual, ia tak akan berbuat sewenang-wenang, lihatlah pada negara-negara yang menganut ajaran Islam yang mayoritas, maka disana tidak ada penindasan terhadap lain agama. Sayangnya orang-orang muslim belum semua terketuk hatinya untuk mempelajari dan mengamalkan samudera ilmu yang sangat luas ini, malah mencari-cari ilmu tentang EQ ke Benua Eropa yang dianggap lebih maju. Lha wong Eropa secara diam-diam sebetulnya sedang ngangsu kawruh kenegara-negara Islam jee, celoteh Mas Fit.
Kesimpulannya untuk merobah akhlak yang rusak yaa dibenahi dulu Kecerdasan Spiritual (SQ)-nya, agar Kecerdasan Emosional (EQ)-nya membaik, barulah Kecerdasan Intelektual (IQ)-nya. Jadi dalam hal memperbaiki kualitas pendidikan yang diutamakan lebih dulu adalah SQ à EQ à IQ.”, begitulah Mas Fitrianto mengakhiri obrolannya. Seperti terkesima Bung Gembus tersadar dari lamunannya membayangkan negeri Indonesia yang subur dan melimpah kekayaan alamnya apabila dikelola dengan baik oleh para petinggi-petinggi yang berkualitas dalam Kecerdasan Spiritualnya, Kecerdasan Emosionalnya dan Kecerdasan Intelektualnya, tentulah akan menjadi negeri yang adil makmur. “ Wis. To Mas Fit, aku marem banget dari penjelasan sampeyan, tapi aku kok ada yang  belum mudeng yaitu bagaimana untuk melatih mempertajam munculnya hati nurani atau kata hati itu?. Besok saja disambung ya Mas, sekarang tak usah yaa cukupkan sekian dulu Mas.  Maaf ya Mas saya akan bertugas PKL di lapangan”, gurau Bung Gembus, ngeloyor setelah mengucapkan salam kepada Mas Fit.

Obrolan Fit dan Gembus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar